oleh

Under Water Clean Up Jadi Ajang Perayaan Hari Bumi

INBISNIS.ID, DENPASAR – Sejalan dengan perayaan hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April dan Hari Ulang Tahun ke 5 Perkumpulan Penyelam Profesional Bali (P3B) pada 23 Mei 2021, P3B secara langsung memperingati keduanya melalui kegiatan under water clean up (pembersihan di bawah laut).

Under water clean up dilaksanakan pada tiga lokasi berbeda diantaranya, pada tanggal 17 April dilaksanakan di Teluk Pemuteran, Buleleng, 18 April di Pantai Penimbangan, Buleleng ,20 April di Pantai Jemeluk-Amed, Karangasem.

Dihubungi INBISNIS, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Penimbangan Lestari, Gede Wiadnyana menuturkan, pagi ini, Minggu (18/4), telah dilakukan aksi bersih-bersih di bawah laut Pantai Penimbangan dengan menurunkan 20 penyelam.

“Ya, tadi sudah dilaksanakan under water clean up di Pantai Penimbangan, jumlah penyelam yang terdaftar adalah 20 orang, baik itu anggota Pokmaswas Penimbangan dan beberapa anggota P3B Kabupaten Buleleng itu jadi satu,” kata Wiadnyana.

Dirinya menyambung, untuk mengikuti protokol kesehatan dalam Pandemi Covid-19, setiap titik penyelaman dibatasi jumlahnya.

“Kemarin di Pemuteran kami tidak bisa gabung karena Covid, dan kami cuma di Penimbangan saja. Manunya sih teman-teman gabung, tapi karena Covid, artinya terbatas, maka di Penimbangan saja, sambungnya.

Hasil dari under water clean up, kata Wiadnyana, adalah sampah seberat kira-kira 100 kilogram dengan mayoritas sampah plastik yang berasal pembuangan sampah sembarangan.

“Sampahnya lumayan banyak, itu sekitar 100 kilogram, itu karena di Penimbangan banyak sungai, itu masyarakat ada yang paham dan ada yang tidak (membuang sampah sembarangan ke sungai). Sampah terdiri dari kaca, kayu, plastik, kain dan kaleng,” ujarnya.

Wiadnyana yang juga tergabung dalam P3B mengutarakan, sampah-sampah yang telah diangkat ke daratan tersebut nantinya akan dibawa ke Tim Sampah Desa Baktiseraga dan dijual di Bank Sampah.

“Itu (sampah) nanti dipilah oleh tim sampah Desa Baktiseraga dan dijual ke bank sampah Desa Baktiseraga,” ungkap Wiadnyana.

Namun, kata Wiadnyana, under water clean up rutin tetap dilaksanakan hampir setiap hari, karena menurutnya sampah merupakan masalah bersama.

Under water clean up dilakukan hampir setiap hari, karena sampah ya masalah kita bersama, karena kita di penimbangan selalu mendapatkan kiriman sampah dari aliran sungai,” lanjutnya.

Sebelumnya, terkait peran serta pemerintah, Wiadnyana menuturkan, pemerintah telah mendukung penuh kegiatan ini dengan diberikan alat-alat penyelaman yang dibutuhkan.

“Kalau Pemerintah Desa Baktiseraga kami setiap tahun diberikan aliran dana, kalau di Kabupaten kami diberikan alat selam 8 set lengkap serta kompresor satu, dari Provinsi, kami diberikan dua set alat selam dan tahun ini kami akan mengajukan bantuan kamera dan alat selam untuk mendukung kegiatan kami. Semua kami dapat support,” tukasnya.

(Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *