oleh

Kisah Sukses Pengusaha Ternak Burung Lovebird

INBISNIS.ID, DENPASAR – Bagi para pecinta burung, lovebird merupakan jenis burung yang hampir dimiliki semua kalangan. Ini didasari dari kemolekan bentuk tubuh dan warnanya yang beragam.

Urusan suara, burung ini tidak bisa diragukan lagi. Dengan suara ngekek nya, lovebird menjadi pilihan yang menarik sebagai burung rumahan serta tidak pernah absen dalam kelas perlombaan burung berkicau.

Kepada INBISNIS, seorang peternak burung lovebird, Gede Agus Suryawan, yang telah membangun usaha tersebut selama 6 tahun membagikan perjalanannya dalam berusaha.

Agus mengungkapkan, dirinya telah memulai usaha ini pada saat masih mengenyam bangku SMA.

“Ini saya awali pada tahun 2015, masih saya SMA. Motivasinya sih dulu itu, saya kan berasal dari keluarga yang tidak terlalu mampu, jadi untuk membantu orang tua, membiayai sekolah, uang jajan, itu saya mencoba berternak burung (lovebird),” ungkap Agus, Rabu (19/5).

“Pada saat memulai usaha banyak yang mempermasalahkan, terutama ibu saya, karena takut mengganggu pendidikan, tapi lama kelamaan setelah hasilnya kelihatan, diijinkan,” lanjutnya sambil tertawa.

Pria asal Banjar Dinas Galiran, Desa Baktiseraga, Buleleng tersebut menuturkan, awalnya ia memulai dengan bermodalkan lima pasang burung lovebird.

“Kalau modal awal dulu punya lima pasang lovebird, kira-kira harganya hampir 3,5 juta dan penghasilannya waktu itu dengan lima pasang lovebird sekitar 2 juta rupiah bersihnya,” tuturnya.

Berkat ketekunan dan kerja keras, Agus dapat mengembangkan usaha ini hingga memiliki sekitar empat puluh pasang burung lovebird dan menghasilkan sekitar empat puluh anakan lovebird perbulannya.

“Kalau untuk saat ini ada sekitar 40 pasang lovebird, diluar yang jodohan. Kalau untuk perbulannya saat ini, saya gunakan sistem rolling, 20 pasang menghasilkan, 20 pasang mengerami telur, jadinya terus berputar. Sehingga perbulannya maksimal panen saya hampir 40 ekor anakan,” ujar Agus.

Agus yang kerap mengikuti perlombaan burung berkicau ini mengungkapkan, pada masa pandemi, penghasilannya sedikit menurun sejalan dengan menurunnya roda perekonomian.

“Di pandemi sih, ya kan semua tahu lah, semua harga barang menurun, otomatis harga burung juga menurun, tetapi tetap kok ada yang tinggi harganya sesuai kualitas, karena saya menjual kualitas,” kata Agus.

Selain berternak burung, lulusan D3 Teknik Elektro yang saat ini melanjutkan studi S1 Teknik Elektro Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) tersebut telah membuka usaha pakan dan peralatan ternak dengan dukungan kedua orang tuanya.

“Saya dirumah lagi ngembangin pakan ternak dan perlengkapan ternak bersama orang tua,” ujarnya.

Agus berharap agar pandemi ini dapat segera berakhir dan peternakan burung serta perlombaan burung dapat kembali normal.

“Saya berharap, agar pandemi bisa cepat selesai, sehingga harga burung tidak merosot dan gantangan lomba burung bisa kembali dibuka normal,” tandasnya.

(Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *