oleh

Anggota DPR-RI Komisi XI Berkunjung Ke MIS Siti Harfan Leuwutung

INBISNIS.ID,LEMBATA – Ahmad Yohan,M.Si selaku anggota DPR-RI periode 2019-2024 dari Fraksi PAN, melakukan silaturahmi bersama alumni dan para lembaga MIS Siti Harfan Leuwutung Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Jumat (4/3/2022).

Acara yang dilakukan di MIS Siti Harfan Leuwutung ini turut hadir Ketua Komite MIS Siti Harfan Leuwutung, Kepala MIS Siti Harfan Leuwutung, Ketua BPD desa Umaleu Kecamatan Omesuri Kabupaten Lembata dan alumni MIS Siti Harfan Leuwutung.

Acara temu alumni bersama bapak Ahmad Yohan selaku DPR-RI ini juga hadir Ketua PAN Kabupaten Lembata bersama rombongan. Dalam sambutan Kepala Madrasah Siti Harfan Leuwutung, Ismail Lolonrian menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Ahmad Yohan selaku Anggota DPR-RI periode 2019-2024 yang sudah berkesempatan hadir pada acara yang dimaksud.

Lanjutnya kegiatan ini merupakan acara yang sebelumnya sempat direncanakan pada kegiatan halalbihalal. Dimana dalam kegiatan dimaksud madrasah berniat mengundang keluarga besar almarhum ibunda Siti Harfan yang juga merupakan mama dari Bapak Ahmad Yohan. Namun dalam perjalanan kegiatan ini tidak dilaksanakan mengingat covid-19 pada tahun 2020 lalu. Alhmdulillah dengan kuasa Allah hari ini anak dari ibu Siti Harfan Leuwutung berkesempatan hadir di tengah-tengah kita mengingat beliau juga pada kesempatan yang sama telah melakukan kunjungan kerja di wilayah Kedang sehingga kesempatan ini kita bisa dapat kembali bersilahturahmi di MIS Siti Harfan Leuwutung.

Dalam sambutannya, Kepala Madrasah Siti Harfan Leuwutung juga menceritakan sejarah perjalanan madrasah hingga nama Al Marhamah Siti Harfan diabadikan menjadi nama madrasah hingga hari ini. Sejarah singkat pendidikan Islam di Lembata khususnya wilayah Kedang dapat dibagi dalam dua fase, fase pertama dimulai dari didirikannya madrasah oleh Yayasan Darut Dakwah Wal-Irsyad (DDI) Leubatang cabang Pare Pare Sulawesi Selatan pada thn 1955, yang diinisiasi oleh pak Muktar Lintang, Wakil Menteri Agama RI wilayah Indonesia Timur yang berkedudukan di Makassar Sulawesi Selatan, dengan mengutus dua tenaga pendidik Ustadz Nazamudin dan Ustadzah Siti Hasanah (suami-istri) asal Pare Pare.

Dua tahun kemudian di tahun 1957 Yayasan Tarbiyah Islamiyah(YATI) yang dipimpin Haji Abdul Syukur Ibrahim Dasi mengirim enam orang guru ke Kalikur, diantaranya Ustad Hasan Kader, Ustad Salem Umar Songge, Ustad Lukman Edong, Ustad Hud Usman Mahing, Ustad Ibrahim Joke Seko,dan Ustad Syahril untuk menjadi guru pada Sekolah Rakyat Islam (SRI) Kalikur yang dirubah status dari Sekolah Rakyat Katolik(SRK) yang didirikan Belanda tahun 1918 melalui referendum atas inisiatif MAS Abdul Salam Sarabiti (Hamente Kedang) yang di menangkan pendukung SRI.

Ditahun yang sama oleh Yayasan Tarbiyatul Islamiyah (YATI) didirikan lagi Sekolah Rakyat Islam (SRI) Leuwutung dengan guru-guru Ustad Musa Salam, Ustad Zainudin Labala, Ustadzah Siti Harfan. Dan pada akhirnya setelah Sekolah Rakyat Islam (SRI) berubah nama menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB) ditahun 1977 MWB Leuwutung berubah nama menjadi Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) dengan menyematkan nama Siti Harfan menjadi MIS Siti Harfan Leuwutung untuk mengenang Ibunda Siti Harfan Binti Abdul Kader Sikka Songge yang menjadi korban bencana alam banjir bandang Leuwutung pada 04 Januari 1961.

“Dengan penyematan nama Ibunda Siti Harfan menjadi nama Lembaga MIS Leuwutung diharapkan agar generasi lintas zaman bisa mengambil ibrah dan spirit dari pengorbanan beliau sebagai Syahidah dalam mengemban amanah pendidika,” ujar Ismail.

Pada kesempatan yang sama, bapak Ahmad Yohan dalam sambutanya menyampaikan ucapan terimakasih atas undangan dari alumni MIS Siti Harfan leuwutung sehingga hari ini saya bisa menyempatkan waktu untuk hadir bersama alumni MIS Siti Harfan Leuwutung, tokoh masyarakat, dan pemuda di desa Umaleu.

“Kehadiran ini bukan merupakan kali pertama di Kedang Buyasuri dan saya juga merupakan salah satu alumni yang pernah menempuh pendidikan di madrasah sehingga kehadiran ini merupakan keluarga besar dari madrasah dan juga saya sadar bahwa keluarga di Kedang memiliki ikantan sejarah yang sangat kuat dengan keluarga di Tanah Werang Flores Timur,” pungkas Ahmad Yohan.

Dari pantauan media acara ini pun diakhiri dengan foto bersama dan santap siang.

(Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *