oleh

Pasangan Muda Andalkan Tuak sebagai Penopang Ekonomi Keluarga

INBISNIS.ID, LEMBATA – Selain kesulitan air bersih, Dula Butu bersama Natalia Mude, kekasih yang telah memberinya seorang anak laki-laki bernama Defantus Olong berlindung pada sebuah gubuk kecil beratap daun kelapa dan berdinding belahan bambu.

Sepasang kekasih remaja yang sudah mengeratkan cinta selama kurang lebih lima tahun tersebut tampak bahagia, menyapa dengan penuh kerendahan hati saat awak media mampir ke alamat rumah mereka di Desa Mahal, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, NTT.

“Udu’ tebe’ (silakan masuk),” sambut Dula Butu, mempersilahkan awak media bertamu ke dalam sebuah rumah sederhana yang patut disebut gubuk, Selasa (15/2/22). Di atas bale-bale (tempat duduk terbuat dari bambu), kami berbincang-bincang tentang seluk beluk kehidupan tiga warga Negara Indonesia yang masih hidup tertinggal, khususnya pada bidang ekonomi.

Menurut Dula Butu, ekonomi keluarga bisa terbantu dengan hasil mengiris dan menjual tuak. Dalam satu hari, Dula Butu bisa memeroleh kisaran Rp10 ribu sampai Rp30 ribu. Namun, sungguh kasihan, kadangkala ia mendapat nol rupiah, jika tak ada yang menikmati hasil irisannya.

Selain andalkan tuak, Dula Butu bersama istri memanfaatkan tumbuhan umur panjang seperti kemiri dan kelapa untuk memproduksi rupiah. Walaupun demikian, penghasilan mereka terbilang kecil. Dula Butu memperkirakan, selama sebulan, ia bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp75 ribu. Dari penghasilan tersebut, ia bisa memperpanjang nafas hidup istri dan anak semata wayangnya yang kini berumur 1,5 tahun.

Musim Hujan dan Atap Bocor
Sungguh miris nasib Dula Butu dan Natalia Mude bersama Defantus Olong. Memperoleh penghasilan saja sudah susah, apalagi membangun rumah layak huni. Pemerintah baik pada tingkat Daerah Lembata maupun Desa belum melihat kehidupan Dula Butu sebagai sebuah masalah urgen. Entah karena faktor ketidaktahuan atau apatisme, Dula Butu tidak melacak sejauh itu. Mereka hanya mendapatkan bantuan berupa jamban dan lubang WC yang hingga kini belum ada bukti fisik lanjut dari bangunan kecil penampung kotoran manusia tersebut.

“Pemerintah hanya sumbang WC bagian bawah saja. Yang ke atas itu kami buat sendiri tapi uang belum ada jadi kami belum bisa pakai,” ungkap Dula Butu diamini oleh istrinya yang tampak tersenyum malu-malu.

Selain kesulitan mendapat perhatian Pemerintah, Dula Butu dan dua anggota keluarganya mengisahkan kesulitan mereka ketika dilanda musim hujan, ditambah angin barat yang nakal. Pada musim hujan, ketiganya kewalahan karena atap rumah bocor dan memberi jalan bagi air hujan untuk mengganggu kenyamanan dalam rumah sederhana itu.

Selain masuknya hujan karena atap rumah bocor, mereka juga mengalami kesulitan air bersih karena tidak ada bak penampung. Hal ini beralasan jelas karena mayoritas warga Kedang di Kabupaten Lembata mengandalkan air hujan untuk bahan konsumsi saban hari. Tanpa bak penampung, WC yang belum sempurna fisik, rumah tak layak huni, pendapatan kurang dan aneka jenis onak dan duri dalam rumah tangga Dula Butu mesti mendapatkan perhatian orang-orang hebat dalam dunia kepemerintahan.

Walaupun mereka hidup dalam kesulitan ekonomi tetapi tak ada harapan bagi pihak luar untuk bantu, khususnya pemerintah.

“Kami tidak pernah harap orang bantu. Jadi kalau ada yang mau bantu, iya bantu saja,” ungkapnya sambil tertawa penuh harap sambil menuangkan sebotol tuak hasil irisannya untuk kami nikmati bersama.

Untuk diketahui, keluarga Dula Butu menetap cukup jauh dari pusat Desa Mahal. Namun demikian, jasa besar keluarganya patut diperhitungkan dalam pembangunan Desa. Ayah dari Dula Butu menghibahkan lahannya untuk membuka akses transportasi dari pusat desa ke bagian selatan Desa tanpa mengharapkan bantuan dari para elit di desa bersangkutan.

(Antonius Rian/HS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. “Kalo mau bantu, ya bantu saja” betul kata si Dula Butu. Nampaknya dia tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah kerna yg di bantu pun WC dari bawahnya saja untuk apa… gimana mau bangun lagi sedangkan hasil jual tuak saja kadang tidak laku yg laku sehari hanya Rp 75.000