oleh

Guru SD di Nagekeo Banting Setir Jadi Penjual Tenun Adat

-Daerah-4,056 views

INBISNIS.ID, NAGEKEO – Tenaga Honorer pada sebuah Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Aesesa Selatan, kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa banting setir, meninggalkan sekolah tempat ia mengajar dan memilih menjadi penjual tenunan adat khas kabupaten Nagekeo.

Dia adalah Irmelinda Nago, S.Pd, Seorang Sarjana pendidikan alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor) Ende.

Keputusannya untuk meninggalkan profesi lamanya dan beralih menjadi penjual tenun adat, bukan tanpa alasan.

Kepada INBISNIS.ID, Irmelinda mengisahkan bahwa, Ketika Ia baru mengabdi selama 9 bulan menjadi seorang Guru pada salah satu Sekolah Dasar di Aesesa Selatan, peristiwa nahas menghampiri keluarganya yakni ibu kandungnya meninggal dunia.

Semenjak ibunya meninggal dunia Keluarganya terlilit hutang. Saat itulah Ia memilih banting setir menjadi seorang penjual tenun adat dengan niat melunasi utang Keluarganya karena pendapatannya dari sekolah tempat Ia mengajar belum mampu menjamin kebutuhan hidupnya apalagi melunasi utang keluarganya. Selain itu hal lain yang melatari dirinya mengambil keputusan untuk berhenti mengajar adalah ketika mengetahui data dirinya tidak terkaver di data Dapodik Sekolahnya.

“Alasan saya untuk Keluar dan berhenti mengajar dari sekolah saat itu karena saya gaji tidak ada, tambah lagi saya punya nama tidak terdaftar di Dapodik. Semenjak mama meninggal keluarga kami utang banyak, jadi mau tidak mau saya berhenti mengajar dan jualan begini (Tenun Adat)”, Ucap Irmelinda Ketika ditemui INBISNIS.ID, belum lama ini, Senin (31/01/2022).

Keputusannya memilih bisnis jualan tenun Ikat tidak bejalan mulus, penuh rintangan dan tantangan. Namun dengan tekad yang kuat dan niat yang tulus akhirnya berbuah manis juga. Alhasil dari bisnis yang ia tekuni akhirnya segala beban hutang keluarga mampu Ia Lunasi.

“Setelah berhenti mengajar, saya tenun dulu. Setelah tenun habis baru saya datang jual disini (Pasar Danga). Awal saya jualan sedih ngeri, banyak orang yang tidak peduli dengan saya, tapi saya sabar dan tabah saja, akhirnya puji Tuhan orang-orang datang tanya dan beli saya punya kain”, Ucap Irmelinda penuh haru.

Kepada INBISNIS.ID, Irmelinda mengaku bahwa prospek penjualan tenun ikat sangat menguntungkan bagi dirinya. Mulanya ia menjual tenunan karya tangannya sendiri. Hasil jualan tersebut ia jadikan modal untuk membeli kain tenun milik masyarakat dan menjual kembali di lapaknya. Selain itu, Ia juga mengambil laba dari jualan kain tenun milik penenun lainnya yang menitipkan kain mereka di lapak jualannya.

Metode penjualan yang ia gunakan berbeda dengan para penjual tenun lainya. Selain menjual ofline di lapak penjualannya, ia juga raib untung melalui penjualan online via media sosial seperti WhatsApp dan Facebook.

Hasil penjualan online tersebut melejit dan banyak orderan ketimbang penjualan ofline. Ia mengaku telah mengirimkan pesanan tenun kepada beberapa butik, seperti ke Labuan Bajo. Permintaan yang tinggi tersebut, Ia kerap membantu sesama penjual tenun kala ketersedian miliknya terbatas.

Harga kain Tenun Adat di lapak penjualan Irmelinda bervariasi. Mulai dari harga 300 ribu rupiah hingga jutaan rupiah, tergantung dari jenis dan kualitas yang diminati pelanggan.

Bagi sahabat dan saudara sekalian yang berminat ingin membeli dan memiliki kain Tenun Adat Khas Nagekeo, Silakan menghubungi Irmelinda di jalur online melalui Facebook atas nama Inda Nago dan Kontak WhatsApp 082351290301.

“Bagai teman-taman, bapak, ibu dan saudaraku sekalian yang ingin memiliki kain tenun Adat, silakan kunjungi tempat saya di lapak Pasar Danga, atau bisa juga order secara online di Facebook Inda Nago dan Kontak WhatsApp Saya” Demikian tuturnya, ketika ditemui INBISNIS.ID.

(Petrus Fua Betu Tenda/HS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *