oleh

Panen Raya Padi Merah Unggul di Majalengka

INBISNIS.ID, MAJALENGKA – Petani padi di Desa Jatiwangi, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat bersama dengan anggota Komisi IV DPR RI dan Kementerian Pertanian melakukan panen raya padi merah yang dikenal pulen.

Padi yang ditanam merupakan hasil penelitian Balitbang yang akan terus dikembangkan karena memiliki nutrisi yang lebih baik dan nilai ekonomi lebih tinggi.

Anggota Komisi IV DPR RI Sutrisno didampingi Petugas Badan Penelitian dan Pengembangan Bibit Unggul Yudi Sastro mengatakan, padi merah yang ditanam petani tersebut adalah uji coba tanaman padi baru hasil penelitian Balitbang yang diberi nama bibit unggul pamera (padi merah). Jenis padi pamera ini dianggap cocok untuk dikembangkan para petani di Majalengka.

“Bibitnya unggul dan varietas ini diharapkan bisa meningkatkan produksi ekonomi pertanian sektor beras merah. Konsumen beras merah kini semakin meningkat dan harganya melebihi harga beras varietas biasa atau beras putih,” ungkap Sutrisno dilansir Pikiran-Rakyat, Senin (23/8).

Sutrisno menyatakan, berdasarkan keterangan dari Balitbang, bibit unggul beras merah ini merupakan salah satu binbit varian baru dari 11 bibit padi unggul lainnya dari hasil penelitian, yang akan dikembangkan di petani termasuk petani di Majalengka.

“Ada beberapa pengembangan varietas padi di Majalengka, sebagian uji coba namun tetap dari bibit unggul hasil penelitian, lainnya adalah pengembangan untuk bibit yang sudah diuji coba petani di Jatiwangi juga yang lahannya akan diperluas,” ungkap Sutrisno.

Sementara itu, Yudi Sastro mengatakan, panen raya bibit unggul palmera ini untuk pertama kalinya dilakukan, dan diharapkan bisa dikembangkan oleh para petani di Kabupaten Majalengka karena nilai ekonominya cukup tinggi. Beras merah banyak diburu konsumen kelas menengah ke atas ketika hasil olahannya bagus.

Untuk diketahui, para petani di Desa Nunuk, Kecamatan Maja sudah memproduksi beras merah sejak lama warisan nenek moyang mereka. Beras merah produksi petani di Nunuk tidak banyak diperjualbelikan namun untuk konsumsi sendiri atau untuk mengirim kerabat yang ada di luar kota.

Cicih Sudiasih dan Saehu serta Siti Aliah dan Memed misalnya, mereka terbiasa menanam padi merah yang dikenal sangat pulen dan tahan basi walaupun dimasak pagi hari dan baru dimakan sore tanpa harus dihangatkan. Bahkan hingga esok hari nasi masih bisa tetap dimakan dengan enak asal pengolahannya atau memasaknya sempurna.

“Yang paling bagus masaknya tidak menggunakan penanak nasi elektronik, tapi orang lembur menyebutnya di karih dan ditanak di dandang atau langseng,” ungkap Cicih yang mengaku tidak pernah menjual beras merah ataupun gabahnya.

Tanaman padi merah di Desa Nunuk menurut Siti Aliah memang tidak terlalu banyak karena hanya ditanam oleh sebagian petani saja yang sengaja untuk konsumsi sendiri, sehingga produksinya pun sedikit.

“Jarang ada yang membeli juga, karena bandar gabah hanya mencari beras putih,” pungkas Siti Aliah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *