oleh

Belajar dari Ledakan Dubai & Singapura: Inilah Kawasan di Bali yang Bakal Jadi Tambang Emas Properti!

INBISNIS.ID, BALI – Indonesia berada di posisi yang sangat strategis untuk menangkap peluang emas setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan lampu hijau bagi pembentukan family office yang akan terintegrasi dengan Pusat Keuangan Internasional (IFC) di Pulau Dewata.

Family office merupakan suatu firma penasihat pengelolaan kekayaan swasta yang melayani individu dengan kekayaan bersih tinggi. Family office memberikan kesempatan bagi kalangan ultra kaya di dunia untuk menyimpan dana di Indonesia. 

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa payung hukum regulasi raksasa ini tengah dikebut di parlemen. Menariknya, titik episentrum dari mega proyek finansial ini bukanlah sebuah rahasia baru, melainkan dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang telah ditetapkan sejak 2024 di Denpasar Selatan, yakni KEK Kura-Kura Bali di Pulau Serangan dan KEK Sanur.

Integrasi antara keindahan alam Bali, keamanan nasional yang stabil, serta regulasi finansial ramah investor yang sedang diramu bersama Danantara dipastikan akan mengubah wajah Pulau Dewata menjadi pusat kendali kekayaan global yang super eksklusif.

Fenomena ini akan memicu ledakan luar biasa pada sektor properti premium di sekitarnya. Jika kita berkaca pada sejarah global, kehadiran pusat keuangan selalu menjadi bahan bakar utama meroketnya harga tanah dan hunian mewah di wilayah sekitarnya.

Pelajaran berharga bisa kita ambil dari Dubai, dimana setelah Dubai International Financial Centre (DIFC) berdiri, harga properti dalam radius 5 hingga 10 kilometer langsung melonjak tajam antara 12 hingga 22 persen per tahun. Hubungan emosional antara pusat perputaran uang dan kebutuhan ruang hidup eksklusif para eksekutif adalah hukum alam yang tidak bisa dihindari.

Pola pertumbuhan yang sama juga terjadi di Singapura, di mana jumlah family office tercatat tumbuh melesat hingga 10 kali lipat sepanjang tahun 2020 hingga 2024. Menariknya, ledakan harga properti di Singapura tidak terjadi secara merata di seluruh negara kota tersebut, melainkan terkonsentrasi sangat masif di wilayah District 9, 10, and 11 yang lokasinya berada paling dekat dengan kawasan Central Business District (CBD).


BACA JUGA :


Ketika para taipan dunia memindahkan manajemen kekayaannya ke suatu tempat, mereka tidak hanya membawa modal, tetapi juga standar hidup premium yang menuntut privasi, kemewahan, dan aksesibilitas yang sangat cepat menuju kantor pelayan aset mereka.

Di Bali, pola yang sama diprediksi akan terulang kembali namun dengan peta geografi yang berbeda, di mana Zona Primer yang berada dalam radius 0 hingga 5 kilometer dari kedua KEK tersebut akan menerima dampak langsung paling besar. Kawasan seperti Sanur, Sanur Kauh, Sanur Kaja, Serangan, Renon, Panjer, Pedungan, Sesetan, dan Sidakarya dipastikan akan bertransformasi menjadi lingkungan elite baru bagi para ekspatriat dan pengelola dana global.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan, rencananya tokoh finansial senior dari Inggris yang akan ditunjuk sebagai penasihat operasional family office. Hal ini kian mempertegas bahwa kawasan-kawasan primer ini akan segera mengadopsi standar tata kelola dan gaya hidup kelas dunia.

“Kami berdiskusi dengan Rosan tadi malam, dia mengatakan kepada saya, dia sudah setuju dan telah menunjuk seorang tokoh senior dari Inggris untuk menjadi penasihat atau teman kami di family office,” ungkap Luhut, Senin (25/5).

Gelombang dinamika pasar ini tentu saja tidak berhenti di zona utama, melainkan ikut mengerek nilai aset di wilayah penyangga di sekitarnya. Zona Sekunder yang berada pada radius 5 hingga 10 kilometer seperti Jimbaran, Nusa Dua, Kuta Selatan, Pemogan, dan Kedonganan akan menjadi alternatif hunian resort mewah yang sangat diburu.

Limpahan minat investasi diproyeksikan akan terus mengalir hingga ke Zona Tersier dalam radius 10 hingga 20 kilometer yang mencakup Canggu, Ubud Selatan, Mengwi, hingga Tabanan Selatan, menciptakan efek domino pertumbuhan ekonomi yang merata di sektor properti premium Bali.

Bagi para investor jeli dan pelaku bisnis properti, saat ini merupakan golden window atau jendela emas terkondisikan yang sangat langka untuk segera mengambil posisi sebelum regulasi ini resmi disahkan sepenuhnya.

Sementara itu, CEO 366 Land, Rudi Sembiring Meliala memperkirakan, saat ini hingga tahun 2027 adalah momentum terbaik untuk mengamankan aset, mengingat harga villa maupun lahan di radius primer dan sekunder tersebut rata-rata masih bertahan pada kestabilan “harga tahun 2025”.

“Membeli properti di kawasan sekitar KEK Kura-Kura Bali dan KEK Sanur hari ini bukan lagi sekadar investasi gaya hidup, melainkan keputusan strategis untuk memiliki bagian dari sejarah baru pusat keuangan dunia,” ujar Rudi, Rabu (10/6).

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Amankan Posisi Portofolio Anda di Pasar Premium Indonesia Rasakan kejelasan dan kenyamanan berinvestasi melalui ekosistem yang matang. Hubungi kantor pusat INBISNIS Group di Bali untuk menjadwalkan sesi konsultasi strategis dan analisis portofolio eksklusif bersama tim pakar multidisiplin.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *