INBISNIS.ID, BALI – Investasi penanaman modal asing atau PMA di Bali berpotensi menurun setelah Pemerintah Provinsi Bali mengajukan penutupan PMA berisiko rendah kepada Kementerian Investasi.
Kebijakan tersebut bertujuan menjaga kualitas investasi asing agar lebih selektif, berkelanjutan, serta memberikan dampak ekonomi nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat lokal Bali.
Terdapat tujuh klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia atau KBLI berisiko rendah serta menengah rendah yang diusulkan ditutup oleh Pemerintah Provinsi Bali.
Kepala DPMPTSP Bali, I Ketut Sukra Negara, menyatakan pengajuan dilakukan karena PMA risiko rendah rawan disalahgunakan serta berpotensi menggeser peran pelaku usaha lokal.
“Kami sudah bersurat bahwa ada beberapa PMA yang rencananya kami akan tutup,” ujar I Ketut Sukra Negara, Senin (9/2).
Menurutnya, sektor tersebut sering memakan ruang penanaman modal dalam negeri sehingga melemahkan daya saing UMKM dan investor nasional di pasar Bali.
Beberapa KBLI yang diusulkan ditutup meliputi penyewaan sepeda motor, perdagangan eceran, jasa fotografi, biro perjalanan wisata, serta sektor real estate.
BACA JUGA :
- Harga Properti Uluwatu Masih Undervalued, Tapi Tidak Akan Lama
- Pasar Villa Kerobokan: Stabil, Menarik, Potensi Untung Besar
- Sumba Jadi Kandidat Terkuat Penerus Kejayaan Pariwisata Bali
- Harga Properti Ungasan Stabil, Waktu Tepat Masuk Investasi
- Dari Bali hingga Labuan Bajo, Investor Memilih INBISNIS Property
Gubernur Bali telah menyurati kementerian dan melakukan pembahasan intensif, termasuk diskusi dengan deputi pengendalian investasi yang pada prinsipnya menyambut baik usulan tersebut.
Jika disetujui, Bali berpotensi menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menutup PMA risiko rendah sebagai langkah strategis menata investasi asing berkualitas.
DPMPTSP Bali menyadari realisasi investasi akan menurun, meski pada triwulan IV 2025 mencapai Rp42,81 triliun atau 94 persen dari target nasional.
Kontribusi terbesar berasal dari PMA senilai Rp25,60 triliun, didominasi Australia, terutama bergerak di sektor real estate, hotel, restoran, dan jasa tersier.
“Yang pasti data PMA-nya lebih tinggi, untuk PMA sekarang masih didominasi Australia dan dari data yang ada sebagian besar masih bergerak di bidang real estate,” ujarnya.
Pemerintah Bali berharap penyesuaian target investasi pusat, karena penutupan PMA risiko rendah otomatis membatasi sektor tertentu menanamkan modal di wilayah Bali.
“Otomatis PMA yang berisiko rendah dan menengah rendah seperti penyewaan sepeda motor dan real estate tidak bisa lagi menanamkan modalnya di Bali. Jadi, kami mohon kepada pusat agar targetnya tidak terlalu tinggi,” tuturnya.
(Redaksi)
Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.
Punya pertanyaan soal Bantuan Hukum & Perizinan, Pencarian & Pengembangan Properti, Layanan Relokasi & Eksplorasi, Dukungan Media & Branding, Distribusi Produk ? INBISNIS bisa bantu jawabin.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini.
Yuk, gabung grup WhatsApp Berita INBISNIS.ID atau ikuti Channel Berita INBISNIS.ID! Dapatkan info terkini tentang Investasi, Bisnis dan Dunia Usaha langsung ke ponselmu.













Komentar